ngaji bareng ust abu usamah

Memahami Ahlussunnah Wal Jamaah (2)

ust

Selasa, 05 Agustus 2008 15:48

Dari kelima pendapat di atas, para ulama[1] menyimpulkan bahwa makna jama’ah pada dasarnya berkisar pada dua makna pokok :

  1. 1. Aspek Ilmiah

Yaitu bersepakat atas satu aqidah, satu manhaj yang benar yaitu Al Qur’an dan As Sunnah serta memahaminya sebagaimana pemahaman generasi sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan ulama mujtahidin sesudahnya yang terpercaya terhadap kedua sumber Islam ini. Pendapat ini merangkum pendapat no. 1,2,3 dan 4. Dalam hal ini, jama’ah artinya mengikuti kebenaran meskipun kita sendirian, dan meninggalkan kebatilan meski kebatilan  itu dianut oleh mayoritas manusia di muka bumi ini.

Ibnu Mas’ud berkata, ”Jama’ah adalah apa yang sesuai dengan kebenaran meski engkau sendirian.” [2]

Al Lalikai juga berkata, ”Jama’ah adalah apa yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah meski engkau sendirian.[3]

Abu Syamah juga menegaskan: ”Kapan ada perintah untuk selalu menetapi jama’ah maka maknanya adalah selalu mengikuti kebenaran meskipun yang berpegang teguh dengan kebenaran itu  sedikit jumlahnya dan yang menyelisihi kebenaran itu banyak. Kebenaran adalah apa yang dibawa oleh jama’ah pertama yaitu Rasululah  dan generasi sahabat. Kebenaran sama sekali tidak diukur dari banyaknya pengikut kebatilan setelah masa sahabat.”

Ibnu Abil Izz al Hanafi berkata: ”Jama’ah adalah jama’ah muslimin yaitu para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka sampai hari kiamat nanti.” Imam al Barbahari[4] mengatakan: ”Pedoman yang kami terangkan adalah bahwa jama’ah adalah para sahabat Rasulullah. Mereka itulah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”

Dr Abdul Karim Aql berkata, ”Jama’ah berarti salafnya [leluhur, nenek moyang] umat ini yaitu sahabat, tab’in, dan orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat nanti. Mereka berkumpul di atas Al Kitab, As Sunnah, dan atas imam-imam mereka, serta orang-orang yang berjalan di atas jalan Rasulullah, sahabat, dan pengikut mereka dengan baik.”[5]

Asy Syathibi[6] berkata: ”Sudah jelas bahwa jama’ah dengan makna ini tidak mensyaratkan banyak sedikitnya pengikut, tapi yang disyaratkan adalah sesuai tidaknya dengan kebenaran sekalipun diselisihi oleh mayoritas umat manusia. Karena itu ketika Abdullah ditanya tentang jama’ah yang harus diikuti, beliau menjawab,” Abu Bakar dan Umar.” Beliau tetap menyebutkan beberapa nama sampai menyebut nama Muhammad bin Tsabit dan Husain bin Waqid. Orang yang bertanya berkata: ”Mereka semua telah mati, siapa yang masih hidup?” Beliau menjawab: ”Abu Hamzah As-Syukri.”

Nu’aim bin Hamad berkata,” Jika jama’ah/masyarakat telah rusak maka ikutilah apa yang jama’ah pertama [sahabat] berada di atasnya, karena jama’ah itu adalah apa yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.”[7]

Abu Ya’kub Ishaq bin Rahawaih ditanya: ”Siapa kelompok mayoritas [As- sawadu al a’dzam] itu ?” Beliau menjawab: ”Muhammad bin Aslam dan para pengikutnya.” Kalau kau bertanya pada orang-orang bodoh tentang kelompok mayoritas tentulah mereka menjawab:     ”Jama’atun Nas [mayoritas masyarakat]. Mereka itu tidak tahu bahwa yang dimaksud dengan jama’ah adalah ulama yang berpegang teguh kepada atsar Nabi dan jalan beliau. Siapa saja yang mengikuti ulama ini, itulah yang disebut al jama’ah.”

Dr. Al Aql menyebutkan: ”Tidak berarti Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu mayoritas manusia – kecuali pada masa sahabat dan tabi’in karena pada masa itu mayoritas manusia berada di atas kebenaran karena mereka selalu dibina oleh Rasul dan mereka dekat dengan masa nubuwwah. Adapun sesudah masa mereka, ukuran banyak tidaknya pengikut tidak menjadi patokan bagi benar tidaknya manusia, karena keumuman dalil-dalil yang menunjukkan banyaknya keburukan, perpecahan umat menjadi tujuh puluh tiga golongan, Islam akan kembali asing dll..—selama mereka tidak berada di atas kebenaran.”

Dr. Al Hindawi berkata: ”Jama’ah dengan makna ini baru diketahui para pengikutnya dengan sikap mereka yang berpegang teguh dengan ushulud dien [pokok-pokok ajaran dien] yang diwariskan oleh salafnya umat ini [sahabat] yang mengikuti Nabi dan para sahabat.”

  1. 2. ASPEK POLITIK

Berjama’ah artinya berkumpul dan hidup di bawah sebuah negara Islam, di bawah kepemimpinan seorang imam/khalifah yang sah secara syar’i. Ini merupakan pendapat kelima dalam makna jama’ah seperti yang kita terangkan di atas.  Selain para Ulama Salaf yang telah kita sebutkan di atas, para Ulama Mua’shirin juga menyebutkan hal ini. Dr Ridha Na’san al Mu’thi dalam tahqiq dan dirasahnya atas kitab al Ibanah ‘an Syari’ati al Firqah an Najiyah karangan Ibnu Bathah mengatakan: ”Bab ini menguatkan bahwa berjama’ah itu wajib dan keluar dari jama’ah itu tidak boleh, baik jama’ah dalam artian  berkumpulnya umat Islam di bawah kepemimpinan seorang imam maupun berkumpulnya umat Islam di atas satu aqidah.”

3.         DEFINISI AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

Seperti telah dijelaskan, Sunnah merupakan ungkapan kesetiaan mengikuti manhaj Al Qur’an dan Sunnah dalam segala dimensinya, baik yang prinsipil maupun yang bukan prinsipil (furu’).

Sedang kata Jama’ah berarti orang-orang yang berkumpul. Tapi yang dimaksud dengan jama’ah dalam terminologi syari’at Islam adalah Rasulullah SAW, para sahabatnya, para tabi’in, dan semua generasi yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Rasulullah SAW telah ditanya tentang siapakah yang termasuk ‘golongan yang selamat’. Maka beliau terkadang menjawab: “Yang mengikuti aku dan para sahabatku”, tapi di lain waktu beliau menjawab: “Al Jama’ah.”

Dengan demikian maka yang dimaksud “Ahlus Sunnah wal Jama’ah’ sebagai kata majemuk adalah orang-orang yang mengikuti aqidah Islam yang benar, komitmen dengan manhaj Rasulullah SAW bersama para sahabat, tabi’in, dan semua generasi yang mengikuti mereka dentgan baik hingga hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَ سُنَّةِ الْخُلَفاءِ الرَّاشِدِيْنَ مِنْ بَعْدِي عُضُّوْا عَلَيْهِ بِالنَّوَاجِدِ

“Hendaklah kamu berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang lurus sesudahku, gigitlah ia dengan gigi gerahammu.” (Hadits Shahih)[8].

Sebab Penamaan Ahlus Sunnah Wal Jamaah :

Menurut Ibnu Taimiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah madzhab yang sudah ada sejak dulu. Ia sudah dikenal sebelum Allah menciptakan Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad. Ahlus Sunnah adalah madzhab sahabat yang diterima dari Nabi mereka yaitu Muhammad SAW. Barang siapa menentang itu, menurut pandangan Ahlus Sunnah berarti ia pembuat bid’ah. 2

Ahlus Sunnah wal Jamaah merupakan kelanjutan dari jalan hidup Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Kalaupun bangkit seorang imam- pada zaman fitnah dan keterasingan Ahlus Sunnah- yang menyeru manusia kepada aqidah yang benar dan memerangi pendapat yang menentangnya, maka ia tidaklah membawa sesuatu yang baru. Ia hanya memperbaruhi madzhab Ahlus Sunnah yang sudah usang dan menghidupkan ajaran yang sudah terkubur. Sebab aqidah dan sistemnya (manhaj) walau bagaimanapun tak akan pernah berubah.

Dan jika pada suatu masa atau disuatu tempat terjadi penisbatan madzhab Ahlus Sunnah terhadap seorang Ulama’ atau mujaddid (pembaharu), maka hal itu bukan karena ulama tersebut telah menciptakan sesuatu yang baru atau mengada-ada. Pertimbangannya semata-mata karena ia selalu menyerukan manusia agar kembali kepada As Sunnah.

Adapun mengenai awal penamaan Ahlus Sunnah wal Jamaah atau Ahlul Hadits ialah ketika terjadinya perpecahan dengan munculnya berbagai golongan sesat serta banyaknya bid’ah dan penyimpangan. Pada saat itulah Ahlus Sunnah menampakkan identitasnya yang berbeda dengan yang lain, baik dalam aqidah maupun manhaj mereka. Namun pada hakekatnya, mereka itu hanya merupakan proses kelanjutan dari apa yang dijalankan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Para ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Al Isfirayaini menyebutkan bahwa dinamakan Ahlus Sunnah karena mengikuti jalan/petunjuk/Sunnah Rasulullah. Nama tersebut sebagai pembeda dari firqah-firqah sesat yang menyimpang dari apa yang telah dituntunkan oleh Rasulullah SAW dan sudah tersebar luas ketika itu.


[1] . Jama’atul Muslimin Mafhuumiha wa kaifiyatu luzuumiha, hal. 21, Wujubu Luzumi Jamaah wa Tarki At Tafaruq, hal. 96-97

[2] .Manhajul Istidlal ‘ala masail I’tiqad ‘inda Ahlis Sunnah wal Jamaah, hal. 38-39.

[3] . Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaah I/108.

[4] . Syarhus Sunnah : 21.

[5] .  Ibid, hal. 13.

[6] . Al I’tisham I/449.

[7] . Ibid, hal. I/453

[8].  HR. Imam Ahmad, Musnad Imam Ahmad, vol. IV, hal. 126-127r.

2 Minhajus Sunnah , II/482

© 2009 ABB Center. www.abbcenter.org. Jl. Cempaka no. 2A, Semenromo, Cemani, Grogol Sukoharjo / Surakarta Jawa Tengah Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s