ngaji bareng ust abu usamah

Memahami Ahlussunnah Wal Jamaah (3)

Selasa, 05 Agustus 2008 15:50
II.  NAMA-NAMA LAIN AHLUS SUNNAH WAL    JAMA’AH

1. AHLUL HADITSHadits adalah ucapan Rasulullah SAW . Ahlul Hadits adalah orang-orang yang dinisbatkan kepada orang yang menjadikan hadits Rasulullah SAW sebagai salah satu sumber penerimaan Aqidah Islam yang benar. Dalam hal ini sama saja apakah mereka itu Ulama Hadits atau Ulama Fikih atau Ulama Ushul Fikih atau orang-orang yang zuhud atau lainnya.

Penamaan mereka sebagai Ahlul Hadits dimaksudkan untuk membedakannya dengan Ahlul Kalam yang menganggap bahwa kalam mereka harus didahulukan atas hadits Rasulullah SAW dalam bidang aqidah. Alasannya hadits itu hanya memberikan indikasi yang bersifat hipotesis (zhanni)’ sedang akal mereka memberi indikasi yang bersifat yakini (mutlak), dan yang dituntut dalam masalah aqidah adalah yang bersifat yakini (mutlak). Dengan demikian hadits-hadits Rasulullah SAW dalam bidang aqidah sama sekali tidak berguna.

Ahlul Hadits semakna dengan Ahlus Sunnah, artinya mereka ini kelompok umat Islam yang paling berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullah dan Jama’ah. Karenanya Imam Ahmad mengatakan: “Kalau mereka (Jama’ah) itu bukan Ahlul Hadits, saya tidak tahu lagi siapa mereka itu.” Imam Abu Ismail Ash Shabuni dalam kitab beliau yang berjudul Aqidatus Salaf Ash-habul Hadits, menyatakan: “…Mereka itu mengikuti Nabi SAW dan para sahabat beliau yang mereka itu laksana bintang. Mereka mengikuti salafus shalih dari kalangan imam-imam dalam dien ini dan ulama kaum muslimin dan berpegang teguh dengan apa yang para ulama berpegang teguh padanya, yaitu dien yang kuat dan kebenaran yang nyata dan membenci ahlul bid’ah yang membuat bid’ah dalam dien, tidak mencintai mereka dan tidak pula bersahabat dengan mereka.”1

2. AHLUL  ATSARSecara bahasa

Kata Atsar maknanya bekas, sisi, atau pengaruh.

Secara Syar’i

Ada dua pendapat dalam hal ini :

  • Mayoritas ulama mengatakan bahwa hadits, sunnah, dan atsar itu makannya sama.
  • Ulama Khurasan menyebutkan bahwa atsar khusus untuk perkataan dan perbuatan sahabat dan tabi’in. Sedang untuk Nabi, mereka menyebutnya dengan hadits atau sunnah.

Namun demikian pendapat mayoritas ulama lebih kuat, dikatakan: ‘Atsartu hadiitsan’, artinya: aku meriwayatkan sebuah hadits2. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Al Iraqi dan Ibu Hajar.

Maka dalam hal ini, Ahlus Sunnah sering juga disebut dengan Ahul Atsar. Ahlus Sunnah disebut dengan Ahlul Atsar karena mereka mengikuti atsar-atsar yang diriwayatkan dari Rasulullah dan para sahabat.

3. SALAFSecara Bahasa

Ibnu mandur berkata: “Salaf merupakan jamak dari kata salif. Salif artinya orang yang terdahulu sesuai urutan waktu (pendahulu, nenek moyang). Salaf artinya jama’ah (kelompok pendahulu). Salaf juga bermakna para pendahulu dari bapak-bapakmu dan kerabatmu yang secara umur dan kemuliaannya lebih tinggi darimu.

Secara Syar’i

Para ulama menyatakan bahwa makna salaf tidak jauh dari makna sahabat,  tabi’in, tabi’ut tabi’in dari kalangan para ulama, dan imam terpercaya yang telah diakui keilmuan dan ittiba’nya terhadap Al Qur’an dan As Sunnah. Yaitu para ulama yang tidak terkena tuduhan bid’ah baik bid’ah mufassiqah ataupun mukaffirah1

Abdul Hadi Al Mishri berkata : « Salaf berarti istilah yang dipakai untuk para imam terdahulu dari tiga generasi pertama yang diberkahi dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in yang disebutkan dalam hadits Rasulullah : « Sebaik-baik generasi adalah… » Setiap orang yang beriltizam dengan aqidah, fikih, dan ushul (pokok-pokok pegangan) para ulama tadi maka ia dinisbahkan kepada salaf juga, sekalipun antara ia dengan mereka ada perbedaan ruang dan waktu. Sebaliknya setiap yang menyelisihi mereka tidak disebut sebagai salaf sekalipun ia hidup di tengah-tengah mereka dan dikumpulkan oleh ruang dan waktu yang sama. »

4. FIRQAH NAJIYAH (Golongan yang Selamat) Selain Ahlus Sunnah, Ahlul Hadits, Ahlul Atsar, dan salaf; Ahlus Sunnah wal Jama’ah juga sering disebut dengan Firqah Najiyah, didasarkan pada hadits-hadits yang menerangkan akan pecahnya umat Islam menjadi 73 golongan, di mana 72 golongan akan tersesat dan yang selamat (najiyah) hanya satu saja yaitu ‘ma ana ‘alaihi wa ash-habi’ (apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya – jama’ah dengan artian ilmu (mengikuti kebenaran), Ahlus Sunnah – dan dalam lafal lain disebutkan ‘Jama’ah’2

5. THAIFAH MANSHURAH (Kelompok yang Menang, Ditolong Allah) Nama lain dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah adalah Thaifah Manshurah. Banyak hadits-hadits yang menyebutkan hal ini.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah yang diriwayatkan oleh sahabat Mughirah dari Nabi bahwa beliau bersabda: “Akan senantiasa ada manusia dari umatku yang menang (berada di atas kebenaran – pent) sampai datang kepada mereka urusan (keputusan) Allah sedang mereka dalam keadaan dhahirin (menang).” 3

Golongan yang mendapat pertolongan sebagaimana yang disebut dalam hadits-hadits Rasulullah SAW adalah golongan pejuang dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang memang layak untuk memperoleh pertolongan Allah, baik secara moral maupun material. Pertolongan Allah itu misalnya: ilmu yang shahih, perilaku yang lurus terhadap sunnah-sunnah Allah di alam semesta, serta melaksanakan hal-hal yang dijadikan Allah sebagai wasilah untuk mencapai hasil yang diharapkan. Jika tidak, atau jika hanya sekedar iman dan mengikuti aqidah Ahlus Sunnah tanpa menjalankan hal-hal yang bisa mendatangkan kemenangan serta tanpa menjalankan sunnah-sunnah Allah di alam semesta – dengan tidak melebihkan seseorang atas selainnya – maka Allah tidak akan menjamin pertolongan, kemenangan, dan kekuasaan di muka bumi, sebagaimana telah dijanjikan-Nya buat hamba-hamba-Nya yang shaleh dan ikhlash.

Maka jelaslah bahwa golongan yang mendapat pertolongan itu adalah golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Golongan ini selalu melaksanakan fikih yang shahih yang mengacu pada Salaf dan para Imam. Golongan ini senantiasa menjalankan hal-hal yang bisa mendatangkan kemenangan sehingga sudah selayaknya Allah memberi mereka pertolongan. Mereka juga sama sekali tidak mempedulikan orang-orang yang menentang, meremehkan, atau merendahkan mereka.

III. AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

Aqidah ini disebut dengan Aqidah Ahlus Sunnah karena para penganutnya selalu berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah SAW, dan disebut dengan Aqidah Ahlul Jamaah karena aqidah ini merupakan aqidah penganut Islam yang berkumpul dalam kebenaran dan tidak berpecah-pecah dalam dien. Mereka senantiasa mengikuti manhaj imam-imam yang haq dan tidak keluar darinya dalam setiap urusan-urusan aqidah. Mereka adalah Ahlul Atsar, Ahlul Hadits, At Thaifah Al Manshurah dan Al Firqah An Najiyyah.

Ibnu Taimiyyah menyebutkan: “Inilah aqidah golongan yang selamat lagi tertolong hingga hari kiamat- Ahlus Sunnah wal Jamaah-, yaitu: beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari berbangkit setelah mati, dan beriman kepada taqdir Allah yang baik maupun yang buruk.1

Ahlus Sunnah wal Jamaah menyepakati prinsip-prinsip penting (Al Ushul) yang kemudian menjadi ciri dan inti aqidah mereka. Yaitu:2

  1. Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamah tentang sifat-sifat Allah: Itsbat bila takyif (menetapkan sifat-sifat Allah tanpa menanyakan bagaimananya) dan mensucikan sifat-sifat-Nya tanpa mengingkarinya.
  2. Ahlus Sunnah wal Jamaah menetapkan aqidah mereka tentang Al Qur’an, bahwa Al Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluq.
  3. Ahlus Sunnah wal Jamaah bersepakat bahwa orang-orang mukmin dapat melihat Rabbnya di syurga dengan kedua mata mereka.
  4. Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah tidak bisa dilihat oleh siapapun di alam dunia ini.
    1. Mengimani semua berita keadaan setelah mati yang disampaikan Rasulullah SAW.
    2. Mengimani qadar Allah dengan segala tingkatannya.
  5. Ahlus Sunnah berpendapat bahwa iman adalah ucapan, dan perbuatan. Dapat bertambah dan berkurang.
  6. Ahlus Sunnah meyakini bahwa iman mempunyai ashl (pokok) dan furu’ (cabang), iman seseorang tidak terlepas kecuali dengan terlepasnya pokok keimanan.
  7. Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersepakat terhadap kemungkinan berkumpulnya antara siksa dan pahala pada diri seseorang. Namun, mereka tidak mewajibkan siksa atau pahala pada orang tertentu kecuali dengan dalil khusus.
  8. Ahlus Sunnah wal Jama’ah mencintai dan mendukung sahabat Rasulullah, ahlul bait, dan isteri-isteri beliau tanpa meyakini adanya kema’shuman terhadap siapapun kecuali Rasulullah.
  9. Ahlus Sunnah wal Jama’ah mempercayai adanya karomah para wali dan kejadian-kejadian luar biasa yang diberikan Allah kepada mereka.
  10. Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersepakat untuk memerangi siapapun yang keluar dari syari’at Islam, sekalipun ia mengucapkan dua kalimat syahadat.

13. Ahlus Sunnah wal Jama’ah berperang bersama pemimpin-pemimpin mereka,       baik pemimpin yang baik maupun durhaka, demi menegakkan syari’at Islam.


1 Ahlus Sunnah Wal Jamaah Ma’alim Al Inthilaqatil kubra, hal: 54

2 Tadribur Rawi jilid VI/109

1 Al Madkhal Lidirasatil Aqidah Al Islamiyyah, hal: 14

2 Ma’alim Al Inthilaqatil Kubra, hal : 58-62

3 Bukhari IV/187, VIII/149 dengan lafal ‘Kelompok di atas kebenaran’, VIII/189, Muslim 171, Darimi 437, Ahmad IV/244,252,348 dengan lafal ‘Berperang di atas jalan kebenaran…’,Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir no. 959,960, 961,962 dengan lafal ‘Sampai datang kiamat kepada mereka..’

1 Majmu’ Fatawa, hal: III/129

2 Di ringkas dari: Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah Ma’alim Al Inthilaqatil Kubra, Abdul Hadi Al Mishri

© 2009 ABB Center. www.abbcenter.org. Jl. Cempaka no. 2A, Semenromo, Cemani, Grogol Sukoharjo / Surakarta Jawa Tengah Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s